Delicious LinkedIn Facebook Twitter RSS Feed

Saturday, August 25, 2007

Video 5 Maestro Tari Indonesia

Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya Galeri Video Yogyakarta bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia. Kelima maestro tersebut adalah : Theresia Suharti (59 tahun, Yogyakarta), Theodora Retna Maruti (59 tahun, Jakarta / Surakarta), Mimi Sutini (65 tahun, Cirebon), Ida Bagus Blangsinga (78 tahun, Gianyar Bali ) dan Mbah Kari (72 tahun, Malang).

Pagelaran yang bertajuk "Sang Maestro – Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia" ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendapa Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta. Pagelaran ini merupakan salah satu Program DUE-Like Batch IV Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kadipaten Pakualaman Ngayogyakartahadiningrat, Unit Jasa dan Industri (UJI) Tari LPM ISI Yogyakarta serta Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.

5 Sajian tari yang ditampilkan oleh para maestro ini adalah : Golek Lambangsari (Gaya Yogyakarta), Gambyong Gambirsawit (Gaya Surakarta), Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar Cirebon), Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga Gianyar) dan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya. Sebelumnya, ditampilkan sebuah drama tari persembahan HMJ Tari dan Alumni Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta berjudul " Setya Jalma Setyaning Aksara " serta sebuah sajian tari dengan Gaya Pakualaman Yogyakarta, Beksan Bandabaya.

Catatan: Video dokumenter pagelaran ini tidak dipublikasikan dan didokumentasikan untuk kepentingan internal Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Yogyakarta.

Friday, August 24, 2007

Video: Tari Golek Lambangsari ( Gaya Yogyakarta )

Tari Golek Lambangsari merupakan koreografi tari tunggal putri yang pada awalnya disusun oleh seorang empu tari pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, yaitu KRT. Purbaningrat. Untuk selanjutnya koreografi itu ditata ulang oleh KRT. Sasmintadipura, salah seorang maestro tari gaya Yogyakarta. Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai Gendhing Lambangsari. Dalam Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", Desember 2006, Tari Golek Lambangsari ditarikan kembali oleh Theresia Suharti, SST., M.Hum. (59 tahun).

Sumber: Booklet Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", 20-21 Desember 2006, di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman, Yogyakarta. Didokumentasikan dalam bentuk VCD dan DVD atas kerjasama Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Yogyakarta.

Thursday, August 23, 2007

Video: Tari Gambyong Gambirsawit ( Gaya Surakarta)

Tari Gambyong Gambirsawit ini merupakan koreografi tari tunggal putri yang disusun oleh seorang maestro tari Jawa gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit. Koreografi Gambyong ini bersumber pada tarian yang lazim disajikan oleh para ledhek sebagai tarian awal pada pertunjukan Tayub. Koreografi Gambyong Gambirsawit ini lebih menampakkan sebuah tataan tari Jawa dengan struktur yang ketat dan mapan. Merupakan bentuk penggambaran seorang putri Jawa yang sedang berhias diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuh, mematut-matut busana dan merias wajah cantiknya. Ekspresi tari ini tampak begitu dinamis, kenes tetapi tetap dalam bingkai kelembutan tari Jawa. Dalam Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", Desember 2006, Tari Gambyong Gambirsawit ditarikan kembali oleh Theodora Retna Maruti (59 tahun).

Sumber: Booklet Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", 20-21 Desember 2006, di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman, Yogyakarta. Didokumentasikan dalam bentuk VCD dan DVD atas kerjasama Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Yogyakarta.

Wednesday, August 22, 2007

Video: Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga, Gianyar)

Dalam tradisi tari Bali, Tari Kebyar Duduk merupakan tari ciptaan baru yang disusun oleh I Mario, seorang maestro tari kebyar generasi pertama, pada tahun 1925. Tari ini merupakan salah satu bentuk tari yang masuk dalam kategori genre tari kekebyaran. Selanjutnya koreografi tari ini "disempurnakan" oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga), sehingga dalam sajiannya memiliki gaya yang sangat spesifik, yang terkenal dengan sebutan "Kebyar Duduk Gaya Blangsinga". Koreografi ini menggambarkan ketrampilan, ketangkasan dan kepiawaian seorang pemuda di dalam berolah tubuh, berolah gerak, merespon dinamika permainan musik iringan tarinya. Dalam Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", Desember 2006, Tari Kebyar Duduk Gaya Blangsinga ditarikan kembali oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga, 78 tahun).

Sumber: Booklet Pagelaran Sang Maestro "Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", 20-21 Desember 2006, di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman, Yogyakarta. Didokumentasikan dalam bentuk VCD dan DVD atas kerjasama Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Yogyakarta.

Tuesday, August 21, 2007

Video: Topeng Malang Gunungsari Patrajaya

Tari Topeng Gunungsari-Patrajaya merupakan tari yang tersebar luas dan dikenal di berbagai wilayah budaya Jawa. Pada pagelaran tari kali ini akan disajikan tari topeng Gunungsari-Patrajaya versi Jabung, Malang. Sumber materi dramatik yang digunakan sebagai titik pijak dalam garapan tari ini adalah cerita Panji. Dalam tari ini dikisahkan Raden Gunungsari, putra mahkota kerajaan Kediri, sedang bercanda dengan abdinya yang bernama Patrajaya. Kemudian Raden Gunungsari mempersiapkan diri, berbusana untuk menghadap raja, dan selanjutnya menuju ke medan laga. Dalam Pagelaran Sang Maestro " Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", Desember 2006, Topeng Malang Gunungsari Patrajaya ditarikan kembali oleh Mbah Kari (70 tahun sebagai Gunungsari) dan Samadi (sebagai Patrajaya).

Sumber : Booklet Pagelaran Sang Maestro " Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", 20-21 Desember 2006, di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman, Yogyakarta. Didokumentasikan dalam bentuk VCD dan DVD atas kerjasama Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Yogyakarta.