Saturday, August 25, 2007

Video 5 Maestro Tari Indonesia

Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya Galeri Video bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia. Kelima maestro tersebut adalah : Theresia Suharti (59 tahun, Yogyakarta), Theodora Retna Maruti (59 tahun, Jakarta / Surakarta), Mimi Sutini (65 tahun, Cirebon), Ida Bagus Blangsinga (78 tahun, Gianyar Bali ) dan Mbah Kari (72 tahun, Malang).

Pagelaran yang bertajuk "Sang Maestro – Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia" ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendapa Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta. Pagelaran ini merupakan salah satu Program DUE-Like Batch IV Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kadipaten Pakualaman Ngayogyakartahadiningrat, Unit Jasa dan Industri (UJI) Tari LPM ISI Yogyakarta serta Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.

5 sajian tari yang ditampilkan oleh para maestro ini adalah : Golek Lambangsari (Gaya Yogyakarta), Gambyong Gambirsawit (Gaya Surakarta), Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar Cirebon), Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga Gianyar) dan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya. Sebelumnya, ditampilkan sebuah drama tari persembahan HMJ Tari dan Alumni Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta berjudul " Setya Jalma Setyaning Aksara " serta sebuah sajian tari dengan Gaya Pakualaman Yogyakarta, Beksan Bandabaya.

Catatan : Video dokumenter pagelaran ini sementara tidak dipublikasikan dan didokumentasikan untuk kepentingan internal Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan Galeri Video Foundation.

Golek Lambangsari ( Gaya Yogyakarta )
Penari : Theresia Suharti, SST., M.Hum. (59 tahun)

Tari Golek Lambangsari merupakan koreografi tari tunggal putri yang pada awalnya disusun oleh seorang empu tari pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, yaitu KRT. Purbaningrat. Untuk selanjutnya koreografi itu ditata ulang oleh KRT. Sasmintadipura, salah seorang maestro tari gaya Yogyakarta. Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari.

Gambyong Gambirsawit ( Gaya Surakarta)
Penari : Theodora Retna Maruti (59 tahun)

Tari Gambyong Gambirsawit ini merupakan koreografi tari tunggal putri yang disusun oleh seorang maestro tari Jawa gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit. Koreografi gambyong ini bersumber pada tarian yang lazim disajikan oleh para ledhek sebagai tarian awal pada pertunjukan Tayub. Koreografi Gambyong Gambirsawit ini lebih menampakkan sebuah tataan tari Jawa dengan struktur yang ketat dan mapan. Merupakan bentuk penggambaran seorang putri Jawa yang sedang berhias diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuh, mematut-matut busana dan merias wajah cantiknya. Ekspresi tari ini tampak begitu dinamis, kenes tetapi tetap dalam bingkai kelembutan tari Jawa.

Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar, Cirebon)
Penari : Mimi Sutini (65 tahun)

Tari Kelana Topeng ini merupakan tarian yang khas gaya Kalianyar, Cirebon. Dalam beberapa bagian dari koreografi tari ini, tampak adanya pengaruh dari topeng gaya Selangit, Cirebon yang berpadu dengan gerak-gerak tari yang khas gaya Priangan. Tari topeng Kelana Rahwana ini menggambarkan seorang raja angkara murka, yang serakah dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Ekspresi yang tertuang lewat gerak tari yang keras dengan aksentuasi tajam, tidak berarti tidak memiliki sentuhan kelembutan. Permainan keras-lembut ini pada akhirnya menghadirkan suatu dinamika dalam sajian pertunjukan ini.

Kebyar Duduk (Gaya Blasinga, Gianyar)
Penari : Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga, 78 tahun)

Dalam tradisi tari Bali, tari Kebyar Duduk merupakan tari ciptaan baru yang disusun oleh I Mario, seorang maestro tari kebyar generasi pertama, pada tahun 1925. Tari ini merupakan salah satu bentuk tari yang masuk dalam kategori genre tari kekebyaran. Selanjutnya koreografi tari ini "disempurnakan" oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga), sehingga dalam sajiannya memiliki gaya yang sangat spesifik, yang terkenal dengan sebutan "Kebyar Duduk gaya Blangsinga". Koreografi ini menggambarkan ketrampilan, ketangkasan dan kepiawaian seorang pemuda di dalam berolah tubuh, berolah gerak, merespon dinamika permainan musik iringan tarinya.

Topeng Malang Gunungsari Patrajaya
Penari Gunungsari : Mbah Kari (70 tahun), Penari Patrajaya : Samadi

Tari Topeng Gunungsari-Patrajaya merupakan tari yang tersebar luas dan dikenal di berbagai wilayah budaya Jawa. Pada pagelaran tari kali ini akan disajikan tari topeng Gunungsari-Patrajaya versi Jabung, Malang. Sumber materi dramatik yang digunakan sebagai titik pijak dalam garapan tari ini adalah cerita Panji. Dalam tari ini dikisahkan Raden Gunungsari, putra mahkota kerajaan Kediri, sedang bercanda dengan abdinya yang bernama Patrajaya. Kemudian Raden Gunungsari mempersiapkan diri, berbusana untuk menghadap raja, dan selanjutnya menuju ke medan laga.

Sumber : Booklet Pagelaran Sang Maestro " Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia", tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman Yogyakarta. Diterbitkan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta, 2006.

Monday, February 26, 2007

Galeri Video Foundation kembali menerbitkan seri video dokumenter budaya dalam format VCD dan DVD. Sebuah paket program cultural edutainment yang dirancang dan dikemas sedemikian rupa sebagai ensiklopedi televisual, menjadi referensi alternatif untuk lebih mengenal dan memahami berbagai ikon dan ragam fenomena budaya seputar Kota Yogyakarta.

Collectible video series ini dipersembahkan sebagai salah satu souvenir eksklusif "Khas-Djogdja" yang akan melengkapi khasanah pustaka di setiap lembaga maupun keluarga. Menjadi media edukasi, informasi, dokumentasi, sekaligus promosi budaya dan pariwisata Kota Yogyakarta.

Inilah kesempatan emas untuk memiliki koleksi langka dan tak ternilai yang sangat bermanfaat untuk memperkaya dan memperdalam wawasan budaya, khususnya seputar Kota Yogyakarta.


Seri Video Dokumenter Budaya " Cinderamata 250 Tahun Kota Jogjakarta"

Sebuah paket ensiklopedi televisual dalam bentuk VCD dan DVD. Dipersembahkan oleh Galeri Video Foundation sebagai tanda mata eksklusif untuk mengenang dua setengah abad Kota Yogyakarta (1756-2006). Paket ini menyajikan 8 judul video dokumenter seputar Kota Yogyakarta yang terbagi dalam 15 episode. Dikemas dalam sajian videografi yang menarik, lengkap dengan narasi dalam Bahasa Indonesia.

Kedelapan judul tersebut adalah : Keraton Kasultanan Yogyakarta - Monumen Dua Setengah Abad ( 2 episode ), Ngalap Berkah Sekaten ( 2 episode ), Nonton Garebeg Maulud ( 2 episode ), Kisah Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta, Berlabuh di Pesanggrahan Tamansari, Kotagede Situs Dinasti Mataram Islam, Mysteries of the Ancient Java ( 5 episode ) dan Beginner’s Guide to Jogja.

Disajikan dalam 1 paket eksklusif yang terdiri dari 10 kemasan berisi 15 disc ( VCD atau DVD, 1 episode dalam 1 disc ). Paket ini juga dilengkapi dengan Buku Panduan yang memuat transkrip naskah setiap episodenya serta 1 set (18 lembar) Seri Kartupos Dokumenter dengan tema yang sama. Harga per paket : VCD ( Kode: VCD-P-250) Rp. 300.000,00; DVD (Kode: DVD-P-250) Rp. 650.000,00



Keraton Kasultanan Yogyakarta, Monumen Dua Setengah Abad

Disela pertumbuhannya sebagai kota modern, keberadaan Keraton Kasultanan yang lestari berikut sisa-sisa wajah sebagai sebuah kota lama, adalah monumen terpenting di usia ke-250 tahun kota Yogyakarta. Terdiri dari 2 episode. Episode pertama menyajikan deskripsi fisik seputar Keraton Kasultanan Yogyakarta dan sekitarnya yang menjadi karakteristik khas Jogjakarta sebagai sebuah kota lama. Episode kedua menyajikan makna filosofis bangunan Keraton Kasultanan Yogyakarta dengan menyusuri lintasan sakral imajiner dari Panggung Krayak hingga Tugu Pal Putih.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 2 episode dalam 2 disc, masing-masing berdurasi 26 menit; Harga per set : VCD Rp. 50.000,00 ( Kode: VCD-T-01), DVD Rp. 90.000,00 (Kode: DVD-T-01).


Ngalap Berkah Sekaten

Mengenal dan memahami, apa dan bagaimana tradisi Perayaan Sekaten di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Terdiri dari 2 episode. Episode pertama menyajikan seputar tradisi Miyos Gongso, Nyebar udhik-udhik dan keberadaan gamelan pusaka sebagai salah sebagian hal penting dan menarik dalam tradisi Perayaan Sekaten di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Episode kedua menyajikan tentang tradisi Pisowanan Maulud sebagai inti Perayaan Sekaten dan Peringatan Maulud Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa Sallam yang berlangsung di Keraton Kasultanan Yogyakarta dan dilanjutkan dengan tradisi Bedhol Gongso di Masjid Gedhe Kauman.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 2 episode dalam 2 disc, masing-masing berdurasi 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 50.000,00 ( Kode: VCD-T-02), DVD Rp. 90.000,00 (Kode: DVD-T-02).


Nonton Garebeg Maulud

Seputar tradisi Garebeg di Keraton Kasultanan Yogyakarta, sebuah upacara ritual khas yang sudah menjadi tradisi selama dua setengah abad sejak Sri Sultan Hamengku Buwono I bertahta. Sebuah upacara yang memiliki makna religius, historis sekaligus kultural dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Kasultanan Yogyakarta.

Terdiri dari 2 episode. Episode pertama menyajikan seputar upacara Tumplak Wajik, prosesi menjelang Garebeg di Bangsal Ponconiti, persiapan para prajurit di halaman Pracimosono; serta pemberangkatan kirab Gunungan melalui Regol Brojonolo. Episode kedua menyajikan liputan peristiwa Garebeg sebagai puncak dari Perayaan Sekaten yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maulud 1939 Alip Tahun Jawa yang bertepatan dengan tanggal 11 April tahun 2006, kirab Gunungan dari Sitihinggil hingga Alun-alun, hingga perebutan Gunungan di Masjid Gedhe dan prosesi khusus di Pura Pakualaman.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 2 episode dalam 2 disc, masing-masing berdurasi 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 50.000,00 ( Kode: VCD-T-03), DVD Rp. 90.000,00 (Kode: DVD-T-03).


Kisah Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta

Daya tarik upacara Garebeg barangkali bukan semata-mata pada tampilnya Gunungan yang menjadi simbol sedekah raja kepada rakyatnya. Bagi sebagian dari ribuan masyarakat dan wisatawan yang begitu antusias menyaksikan, daya tarik istimewanya justru ada pada tampilnya kesatuan-kesatuan Prajurit Keraton yang selalu mengawal setiap prosesi dalam upacara Garebeg. Setiap kesatuan prajurit tampil dengan seragam kebesaran yang khas, unik, dengan corak warna-warni. Mereka diperlengkapi dengan beragam jenis dan bentuk senjata, serta atribut militer masa lampau. Penampilan kesatuan-kesatuan prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta dalam setiap upacara Garebeg, menjadi daya tarik istimewa sekaligus menjadi simbol eksotika budaya dan pariwisata khas Yogyakarta.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 30.000,00 ( Kode: VCD-T-04), DVD Rp. 50.000,00 (Kode: DVD-T-04).


Berlabuh di Pesanggrahan Tamansari

Dua setengah abad yang lalu, sebuah kompleks bangunan yang sangat megah berdiri di sebelah barat Keraton Kasultanan Yogyakarta. Disana terdapat kolam luas dan dalam yang menyerupai danau, gedung-gedung bertingkat, lorong-lorong di bawah muka air, serta kolam-kolam pemandian. Pada halaman-halamannya yang luas ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah. Sebuah kanal yang bisa dilintasi perahu melintangi kompleks Keraton dari barat ke timur, menghubungan danau buatan di sebelah barat, dengan satu lagi danau buatan di sisi timur Keraton. Masih ada lagi. Sebuah masjid yang tidak lazim, karena bangunannya ada di bawah permukaan air danau buatan. Bentuknya yang melingkar, mengingatkan pada bentuk Amfiteater di Roma, Italia. Ada pula pemandian dengan 3 buah kolam, yang menyerupai kombinasi antara Gaya Baroque di Eropa pada abad ke-18 dengan gaya Ottoman di Turki serta arsitektur khas Mongolia. Sebuah dokumenter tentang Pesanggrahan Tamansari, situs pusaka budaya di Kota Yogyakarta yang pada tahun 2004 dicatat oleh World Monument Fund sebagai satu dari seratus situs yang paling terancam keberadaannya di seluruh dunia.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 30.000,00 ( Kode: VCD-T-05), DVD Rp. 50.000,00 (Kode: DVD-T-05).


Kotagede Situs Dinasti Mataram Islam

Setelah Kerajaan Islam Demak runtuh, pusat-pusat kerajaan di Jawa Tengah pindah berturut-turut, dari Pajang, Kotagede, Kerta, Plered, Kartasura serta Surakarta dan Yogyakarta. Dari bekas kota-kota kerajaan di Jawa Tengah itu, hanya sedikit yang masih ada dan menunjukkan sisa wajahnya sebagai bekas ibukota kerajaan.

Surakarta dan Yogyakarta masih cukup lestari dan berkembang sebagai kota modern yang menjadi ibukota budaya Jawa di masa kini. Bisa dimaklumi karena kedua kota itu berada di rantai akhir Dinasti mataram Islam. Kota Kartasura, meski tetap ramai, namun nyaris tidak mewariskan identitasnya sebagai kota kerajaan. Demikian juga Kerta dan Plered yang telah berubah menjadi desa-desa biasa. Pajang, sebagai bekas kota kerajaan tertua, bahkan tidak diketahui dengan pasti dimana keberadaannya.

Yang menarik justru ada di Kotagede. Meski Kerta, Plered dan Kartosura yang lahir sesudahnya telah kehilangan identitas, keramaian Kotagede justru tidak banyak berubah sejak hampir 5 abad yang lalu. Lengkap dengan sisa-sisa wajahnya sebagai bekas kota kerajaan. Sebetulnya, tidak banyak yang tersisa di Kotagede. Namun karaktiristik fisik berikut tradisi sosio-kultural masyarakatnya masih menyisakan identitas yang khas sebagai sebuah bekas kota kerajaan. Meski tidak semuanya utuh, Kotagede masih menunjukkan ciri sebuah kota lama, berikut sejumlah situs peninggalan yang terjaga lestari.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 30.000,00 ( Kode: VCD-T-06), DVD Rp. 50.000,00 (Kode: DVD-T-06).


Mysteries of the Ancient Java

Istilah Mataram sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Kota Jogjakarta berdiri. Berbagai prasasti dan situs peninggalan purbakala menunjukkan adanya peradaban dan kerajaan-kerajaan kuno yang kemudian dikenal dengan istilah Dinasti Mataram Kuno. Mini seri dokumenter ini menyajikan informasi keberadaan sejumlah candi dan peninggalan purbakala sebagai bukti peradaban masyarakat Jawa kuno. Terdiri dari 5 episode.
Episode 1 : Tentang situs peninggalan purbakala sebagai bukti kehidupan masyarakat Jawa Kuno; Sejarah Dinasti Mataram Kuno, prasasti-prasasti, timbulnya istilah Mataram; sekilas tentang lokasi-lokasi situs purbakala di Jawa Tengah bagian selatan.


Episode 2 : Selain Borobudur dan Prambanan yang begitu tersohor, peninggalan peradaban Jawa Kuno juga tersebar di berbagai tempat, diantaranya di seputar Kalasan, Yogyakarta. Episode ini menceritakan tentang keberadaan Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Sambisari dan Candi Kedulan.

Episode 3 : Peninggalan peradaban Jawa Kuno juga banyak tersebar di Sekitar Candi Prambanan. Episode ini menceritakan keberadaan Candi Sewu, Candi Plaosan, Candi Sojiwan, serta situs-situs lain di sekitar Candi Prambanan.

Episode 4 : Peninggalan peradaban Jawa Kuno juga banyak tersebar di sekitar Dataran Tinggi Siwa. Episode ini menuturkan keberadaan Candi Banyunibo, Candi Barong, Candi Ijo serta tentang Keraton Ratu Boko.
Episode 5 : Tentang Candi Rara Jonggrang Prambanan Sebagai candi Hindu terbesar beserta Relief kisah Ramayana yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 5 episode dalam 5 disc, masing-masing berdurasi 26 menit. Harga per set lengkap (5 disc, 5 episode) : VCD Rp. 100.000,00 ( Kode: VCD-T-07), DVD Rp. 215.000,00 (Kode: DVD-T-07).


Beginner’s Guide to Jogja

Para pendatang membutuhkan informasi untuk mengenal lingkungan barunya. Para wisatawan memerlukan referensi untuk memahami tempat yang dikunjunginya. Mereka yang pernah tinggal di kota ini juga mencari dokumentasi untuk mengenang dan bernostalgia. Tapi bukan cuma mereka yang perlu tahu tentang Jogja. Orang Jogja sendiri membutuhkan " modal " untuk bertutur tentang kotanya. Yang katanya " Asli Jogja " toh belum tentu lebih tahu tentang Jogja. Episode ini menyajikan pusaka budaya dan beragam pernik kultural seputar Kota Jogjakarta, khususnya di kawasan Titik Nol Kilometer, kawasan Jeron Benteng dan kawasan Kidul Benteng.

Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; Format & durasi: VCD dan DVD, 26 menit; Harga per set: VCD Rp. 30.000,00 ( Kode: VCD-T-08), DVD Rp. 50.000,00 (Kode: DVD-T-08).


Bagaimana Cara Mendapatkannya ?
  • Semua koleksi video dokumenter budaya produksi Galeri Video Foundation diproduksi dan didistribusikan secara eksklusif untuk kalangan terbatas. Produk ini hanya dapat diperoleh melalui pesanan langsung ke Galeri Video Foundation atau pembelian di outlet-outlet resmi.
  • Anda dapat melakukan pemesanan dengan cara mengirimkan Form Pemesanan yang telah diisi dan ditandatangani dengan lengkap (dilampiri copy bukti pembayaran pesanan), baik melalui pos, faksimili maupun email (sertakan hasil scan atau print-screen bukti pembayaran sebagai attachment).
  • Anda juga bisa membuat surat atau menulis kembali Form Pemesanan dengan menantumkan data-data sesuai yang tercantum dalam Form Pemesanan asli. Mohon bubuhkan stempel resmi jika pemesanan dilakukan atas nama lembaga.
  • Untuk konfirmasi, informasi lebih lanjut atau pemesanan via telepon, Anda dapat menghubungi Dwi Sriningsih (0817.940.8572) atau Agus Yuniarso (081.827.8040) atau langsung menghubungi : Galeri Video Foundation [ Lembaga Videografi Budaya ], Jl. P. Wirosobo No. 24, Wirosaban, Yogyakarta 55162, telp. (0274) 7471090, fax. (0274) 378336, email: galerivideo@yahoo.com. Hari dan jam kerja: Senin-Sabtu, 09.00-16.00 wib.
  • Download [ Katalog & Form Pemesanan ]

Friday, November 10, 2006

Pengunjung yang terhormat,

Situs blog ini bersifat sementara dan sedang dalam proses rekonstruksi. Untuk informasi yang lebih lengkap tentang Galeri Video Foundation beserta program-programnya - khususnya penerbitan Seri Video Dokumenter Budaya "Cinderamata 250 Tahun Kota Jogjakarta", silakan mengunjungi Situs Blog Utama Kami di WordPress.Com.

Terima kasih atas perhatian dan kunjungannya.

Salam,
Agus Yuniarso
Program Director